MAKALAH TENTANG Efektifitas Penggunaan Media Pembelajaran

Posted: Mei 27, 2012 in Uncategorized

BAB I

PENDAHULUAN

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah membawa perubahan yang sangat signifikan terhadap berbagai dimensi kehidupan manusia, baik dalam bidang ekonomi, sosial, budaya, dan pendidikan.

Revolusi industri sebagai akibat kemajuan teknologi dan pengetahuan sejak akhir abad ke-19 turut mempengaruhi pendidikan dengan menghasilkan alat-alat yang dapat dipakai untuk pendidikan (Nasution, 1999: 101). Sangat untung bahwa sejak awal mula pendidikan senantiasa bersikap terbuka terhadap penemuan-penemuan baru dalam bidang teknologi. Hal ini mempunyai maksud bahwa sistem pendidikan yang tidak mau dan kurang bisa menyelaraskan diri dengan kemajuan teknologi tersebut, maka system pendidikan tentu akan ketinggalan zaman. Sistem pendidikan tentu tidak lagi relevan dan integral dengan kemajuan yang telah diperoleh dunia. Upaya peningkatan kualitas pendidikan harus lebih banyak dilakukan pengajar dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai pendidik.

Salah satu upaya untuk peningkatan proses pembelajaran adalah penggunaan media secara efektif mempertinggi kualitas yang akhirnya dapat meningkatkan kualitas hasil belajar (Hujair AH. Sanaky, 2009:1-2). Guru memiliki peran yang sangat penting dalam menentukan kuantitas dan kualitas yang dilaksakannya. Untuk memenuhi hal tersebut diatas, guru dituntut mampu mengelola proses belajar mengajar yang memberikan rangsangan kepada siswa sehingga mau belajar karena memang siswalah subyek utama dalam proses belajar (Usman, 2004:21).

Dalam sistem pendidikan modern fungsi guru sebagai penyampai pesan-pesan pendidikan perlu dibantu dengan media pembelajaran agar proses belajar mengajar dapat berlangsung secara efektif. Hal ini disebabkan karena pekerjaan guru adalah pekerjaan professional yang membutuhkan kemampuan dan kewenangan (Hamalik, 1989: 4). Kemampuan guru dalam menjalankan perannya sebagai pengajar, administrator dan pembina ilmu dapat dilihat dari sejauh manakah guru dapat menguasai metodologi media pendidikan di sekolah untuk kepentingan anak didiknya.

Untuk mengupayakan pendidikan yang berkualitas, guru seringkali menemukan kesulitan dalam memberikan materi pembelajaran. Terutama dalam kualitas proses belajar mengajar yang dikembangkannya yang selanjutnya berakibat langsung kepada rendah dan tidak meratanya kualitas hasil yang dicapai oleh para siswa (Andayani, 2004: 178). Kondisi semacam ini akan terus terjadi selama guru masih menganggap bahwa dirinya merupakan sumber belajar bagi siswa dan mengabaikan peran media pembelajaran.

Materi pelajaran dipenuhi  dengan nilai-nilai bagi pembentukan pribadi, namun apabila materi itu disajikan dengan cara yang kurang tepat, tidak mustahil akan timbul pada diri siswa rasa tidak
senang terhadap pelajaran dan bahkan juda terhadap gurunya (Depag RI, 2002: 100). Salah satu usaha untuk mengatasi keadaan demikian adalah penggunaan media pembelajaran secara terintegrasi dalam
proses belajar mengajar.

Dengan menggunakan media pembelajaran yang dipersiapkan dengan baik berarti guru pendidikan telah membantu siswanya mengaktifkan unsur-unsur psikologis yang ada dalam diri mereka seperti
pengamatan, daya ingat, minat, perhatian, berpikir, fantasi, emosi dan perkembangan kepribadian mereka. Sikap jiwa mereka yang tenang dengan minat belajar yang besar sangat potensial sekali dibutuhkembangkan sebagai dasar materi keimanan, ibadah, sikap sosial, pembentukan akhlak
dan sebagainya (Rasyad, 1996: 59).

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa penggunaan media pembelajaran bukan sekedar upaya untuk membantu guru dalam mengajar, tetapi lebih dari itu sebagai usaha yang ditujukan untuk memudahkan siswa dalam pelajaran. Akhirnya media pembelajaran memang pantas digunakan oleh guru, bukan hanya sekedar alat bantu mengajar bagi guru, namun diharapkan akan timbul kesadaran baru bahwa media pembelajaran telah menjadi bagian integral dalam sistem pendidikan sehingga dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk membantu lancarnya bidang tugas yang diemban untuk kemajuan dan meningkatkan kualitas peserta didik.

Padahal anak sebagai subyek pembelajar  yang memiliki kekuatan psikopisik yang jika memperoleh sentuhan yang tepat akan mendorong murid berkembang dalam kapasitas yang mengagumkan. Untuk itu pendidik harus membangun kemampuan pada dirinya agar dapat mengubah gaya-gaya mengajar yang bersifat tradisional menjadi gaya mengajar modern, sehingga guru mengajar dengan luwes dan gembira. Dengan banyak cara yang tidak kalah pentingnya, dapat menerapkan proses pembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran sehingga guru mampu mengefektifitaskan penggunaan media pembelajaran dalam proses pembelajaran.

Dengan melihat fenomena para pelaku pendidikan yang berada di lingkungan pendidikan, di sekolah-sekolah dasar dan yang berada di wilayah pedesaan. Dalam mengemban tugas sehari-hari, selaku pendidik masih banyak dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar dengan menerapkan gaya-gaya atau model mengajar tradisional seperti “aku bicara, kalian mendengarkan” guru menerangkan, anak atau siswa disuruh diam, padahal diamnya anak belum tentu mereka senang dan paham terhadap materi yang disampaikan oleh guru.

Oleh karena alat-alat yang dihasilkan oleh kemajuan teknologi sudah sedemikian majunya, tidaklah pada tempatnya lagi jika penyampaian pesan-pesan pendidikan masih secara verbalitas atau dengan kata-kata belaka. Pendidikan harus sejalan dengan kemajuan cara manusia menggunakan semua alat yang ada untuk proses pembelajaran di sekolah menjadi efektif.

 

 

 

 

BAB II
Efektifitas Penggunaan Media Pembelajaran

  1. Pengertian efektifitas

Efektifitas berasal dari kata dasar efektif. Dalam kamus bahasa Indonesia, kata efektif mempunyai arti mempunyai efek, pengaruh atau akibat. Maka efektifitas bisa diartikan seberapa tingkat besar keberhasilan yang dapat diraih (dicapai) dari suatu cara atau usaha tertentu sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai.

Menurut kamus ensiklopedia Indonesia ( 1989 ) efektifitas adalah menunjukkan taraf tercapainya suatu tujuan. Suatu usaha dikatakan efektifitas apabila usaha itu telah mencapai tujuannya. Adapun efektifitas menurut Pringgodogjo (1973: 29) adalah menunjukkan taraf tercapainya suatu efektif apabila itu mencapai tujuannya. Secara ideal taraf efektifitas dapat dinyatakan dengan ukuran-ukuran yang pasti.

Lebih ditegaskan oleh Madya Kasihadi (1985: 54) bahwa efektifitas adalah keadaan yang menunjukkan sejauh mana apa yang direncanakan dapat tercapai, semakin banyak rencana yang dapat dicapai semakin efektif pada kegiatan tersebut. Dengan demikian dapat diambil kesimpulan mengenai efektifitas penggunaan media pembelajaran adalah suatu usaha, sejauh mana usaha dalam pembelajaran dengan menggunakan alat bantu (media) dalam pencapaian suatu tujuan yang telah direncanakan.

 

  1.  Media Pembelajaran
  2. Pengertian Media Pembelajaran

Kata media berasal dari bahasa latin medius yang secara hafal berarti tengah, perantara atau pengantar. Dalam bahasa arab, media adalah perantara atau pengantar dari pengirim kepada penerima pesan . Geanlach dan Ely (1971) menyatakan bahwa media apabila dipahami secara garis besar adalah manusia, materi atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, ketrampilan, atau sikap. Dalam pengetahuan ini, guru, buku teks dan lingkungan sekolah merupakan media.

Secara lebih khusus, pengertian media dalam proses beljar mengajar cenderung diartikan sebagai alat-alat grafis, photografis, atau elektronis untuk menangkap, memproses, dan menyusun kembali informasi visual dan verbal. Batasa lain telah pula dikemukakan oleh para ahli yang sebagian diantaranya akan diberikan berkat ini, AECT (Association Of Education and Communication Technology, 1977) memberikan batasa tentang media sebagai segala bentuk dan saluran yang digunakan untuk menyampaikan pesan atau informasi. Disamping sebagai sistem penyampai atau pengantar, media yang sering diganti dengan kata mediator menurut Fleming (1987: 234) adalah penyebab atau alat yang turut campur tangan dalam dua pihak dan mendamaikannya. Dengan istilah mediator media menunjukkan fungsi atau perannya, yaitu mengatur hubungan yang efektif antara dua pihak utama dalam proses belajar siswa dan isi pelajaran.

Di samping itu, mediator dapat pula mencerminkan pengertian bahwa setiap sistem pengajaran yang melakukan peran mediasi mulai dari guru sampai kepada peralatan paling canggih dapat disebut media. Ringkasnya media adalah alat yang menyampaikan atau mengantarkan pesan-pesan pengajaran. Heimich dan kawan-kawan (1982) mengemukakan istilah medium sebagai perantara yang mengantar informasi antara sumber dan penerima. Jadi televisi, film, foto, radio, rekaman audio, gambar yang diproyeksikan, bahan-bahan cetakan dan sejenisnya adalah media komunikasi. Apabila media itu membawa pesan-pesan atau informasi yang bertujuan intruksional atau mengandung maksud-maksud pengajaran maka media itu disebut media pengajaran.

Sejalan dengan batasan ini, Hamidjojo dalam Latuheru (1993) memberi batasan media sebagai semua bentuk perantara yang digunakan oleh manusia untuk menyampaikan atau menyebar ide, gagasan atau pendapat sehingga ide, gagasan atau pendapat yang dikemukakan itu sampai kepada penerima yang dituju.

Apabila kata media pendidikan digunakan secara bergantian dengan istilah alat bantu atau media komunkasi seperti yang dikemukakan oleh Hamalik (1986) di mana ia melihat bahwa hubungan komunikasi akan berjalan lancar dengan hasil yang maksimal apabila menggunakan alat bantu yang disebut media komunikasi. Sementara Gagne dan Briggs (1975) secara implisit menyatakan bahwa media pembelajaran meliputi alat yang secara fisik digunakan untuk menyampaikan isi materi pengajaran yang terdiri dari, antara lain buku, tape-recorder, kaset, video camera, film, slide (gambar bingkai), foto, gambar, grafik, televisi dan komputer. Dengan kata lain media adalah komponen sumber belajar atau wahana fisik yang mengandung materi instruksional di lingkungan siswa yang dapat merangsang siswa untuk belajar.

Di lain pihak National Education Association memberikan definisi media sebagai bentuk-beentuk komunikasi baik terletak maupun audio-visual dan peralatannya. Dengan demikian media dapat dimanipulasi, dilihat, didengar atau dibaca. Istilah “media” bahkan sering dikaitkan atau dipergantikan dengan kata “teknologi” yang berasal dari kata latin tekne (bahasa inggris; art) dan logos (bahasa Indonesia; ilmu).

Menurut Websten (1983:105) “art” adalah ketrampilan (skill) yang diperoleh lewat pengalaman, study dan observasi. Bila dihubungkan dengan pendidikan dan pengajaran, maka teknologi mempunyai pengertian sebagai: perluasan konsep tentang media, dimana teknologi bukan sekedar benda, alat, bahan, atau perkakas, tetapi tersimpul pula sikap, perbuatan organisasi dan manajemen yang berhubungan dengan penerapan ilmu, Azhar Arsyad (2002: 3-5)

Pengertian lain disebutkan bahwa pengertian media adalah sebuah alat yang mempunyai fungsi menyampaikan pesan (Bovee, 1997). Media pembelajaran adalah sebuah alat yang berfungsi dan digunakan untuk pesan pembelajaran. Pembelajaran adalah proses komunikasi antara pembelajar, pengajar dan bahan ajar. Dapat dikatan bahwa bentuk komunikasi tidak akan berjalan tanpa bantuan sarana untuk menyampaikan pesan. Bentuk-bentuk stimulus dapat dipergunakan sebagai media, diantaranya adalah hubungan atau interaksi manusia, realitas, gambar bergerak atau tidak, tulisan dan suara yang direkam. Media dengan kelima bentuk stimulus ini, akan membantu pembelajar mempelajari bahan pelajaran atau dapat disimpulkan bahwa bentuk-bentuk stimulus yang dipergunakan sebagai media pembelajaran adalah suara, visual dan gerakan.

Banyak batasan atau pengertian yang dikemukakan para ahli tentang media, diantaranya adalah Asosiasi teknologi dan komunikasi pendidikan Associtiation Of Education and Communication Technology (AECT) di Amerika, membatasi media sebagai segala bentuk dan saluran yang digunakan orang untuk menyalurkan pesan atau informasi. National Education Assocition (NEA) mengatakan bahwa “media” adalah bentuk-bentuk komunikasi bank cetak maupun audio-audio serta peralatannya.

Gagne (1970) mengatakan bahwa media adalah berbagai jenis komponen atau sumber belajar dalam lingkungan pembelajar yang dapat merangsang pembelajar untuk belajar. Briggs (1970) mengatakan media adalah segala wahana atau alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang pembelajar untuk belajar. Schramm mengatakan media adalah teknologi pembawa informasi atau pesan instrusional. Y. Miarso mengatakan bahwa media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemajuan pembelajar sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar pada diri pembelajar.

Maka secara umum media adalah “alat bantu” yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran. Istilah media sangat populer dalam bidang komunikasi. Proses belajar mengajar pada dasarnya juga merupakan proses komunikasi, kata pembelajaran sengaja dipakai sebagai padanan kata dari kata instruksi. Kata instruksi mempunyai pengertian yang lebih luas dari pengajaran, jika kata pengajaran dalam konteks guru dan siswa di kelas (ruang) / formal maka pembelajaran mencakup pula kegiatan belajar mengajar yang tak dihadiri guru secara fisik. Dalam hal ini yang ditekankan adalah proses belajar mengajar dan adanya usaha-usaha terencana dalam memanipulasi sumber-sumber agar terjadi proses belajar pada diri siswa (Sadiman, dkk, 1993: 7).

Salah satu usaha dalam sumber-sumber belajar adalah dengan penggunaan media sehingga media yang digunakan dalam pembelajaran disebut media pembelajaran. Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah sarana pendidikan yang dapat digunakan sebagai perantara dalam proses pembelajaran untuk mempertinggi efektifitas dan efisiensi dalam mencapai tujuan pengajaran. Dalam pengertian lebih luas media pembelajran adalah alat, metode dan teknik yang digunakan dalam rangka lebih mengefektifkan komunikasi dan interaksi antara pengajar dan pembelajar dalam proses pembelajaran di kelas. Pengertian  media secara lebih luas dapat diartikan manusia, benda atau peristiwa yang membuat kondisi siswa memungkinkan memperoleh pengetahuan, ketrampilan atau sikap (Basyiruddin Usman, 2002: 127).

Dari keseluruhan pengertian di atas secara umum dapat dikatakan bahwa subtansi dari media pemebelajaran adalah :

1)       bentuk saluran yang digunakan menyalurkan pesan, informasi atau bahan pelajaran kepada penerima pesan atau pembelajar

2)      berbagai jenis komponen dalam lingkngan pembelajar yang dapt merangsang pembelajar untuk belajar

3)      bentuk alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang pembelajar untuk belajar

4)       bentuk-bentuk komunikasi yang dapat merangsang pembelajar untuk belajar, baik cetak maupun audio, visual dan audio visual. (Hujair Sanaky, 2009: 4).

 

  1.  Tujuan Media Pembelajaran

Dalam bukunya Hujair Sanaky (2009: 4) menyebutkan bahwa tujuan media pembelajaran adalah sebagai berikut:

  1.  Mempermudah proses pembelajaran di kelas
  2.  Meningkatkan efisiensi proses pembelajaran
  3. Menjaga relevansi antara materi pelajaran dengan tujuan belajar,
  4. Membantu konsentrasi pembelajar dalam proses pembelajaran.
  5. Fungsi Media Pembelajaran

Ada enam fungsi pokok media pembelajaran dalam proses belajar mengajar menurut Nana Sudjana (1998: 99-100).

  1. Sebagai alat bantu untuk mewujudkan situasi belajar mengajar yang efektif.
  2. Media pengajaran merupakan bagian yang integral dari keseluruhan situasi mengajar. Ini merupakan salah satu unsur yang harus dikembangkan oleh seorang guru.
  3. Dalam pemakaian media pengajaran harus melihat tujuan dan bahan pelajaran.
  4. Media pengajaran bukan sebagai alat hiburan, akan tetapi alat ini dijadikan untuk melengkapi proses belajar mengajar supaya lebih menarik perhatian peserta didik.
  5. Di utamakan untuk mempercepat proses belajar mengajar serta dapat membantu siswa dalam menangkap pengertian yang disamapaikan oleh guru.
  6. Penggunaan alat ini diutamakan untuk meningkatkan mutu belajar mengajar.

Menurut Kemp dan Dayton (1985: 28) dalam Azhar Arsyad (1996: 20-21), ada tiga fungsi utama media pembelajaran adalah untuk:

  1. Memotivasi minat atau tindakan untuk memenuhi fungsi motivasi, media pengajaran dapat direalisasikan dengan teknik drama atau hiburan. Hasil yang diharapkan adalah melahirkan minat dan merangsang para siswa.
  2. Menyajikan informasi isi dan bentuk penyajian ini bersifat amat umum, berfungsi sebagai pengantar, ringkasan atau pengetahuan latar belakang. Penyajian dapat pula bebrbentuk hiburan, drama, atau teknik motivasi. Ketika mendengar atau menonton bahan informasi, para siswa bersifat pasif. Partisipasi yang diharapkan dari siswa hanya terbatas pada persetujuan atau ketidak setujuan mereka secara mental atau terbatas pada perasaan tidak kurang senang, netral atau senang.
  3.  Memberi intruksi; Media berfungsi untuk tujuan intruksi di mana informasi yang terdapat dalam media itu harus melibatkan siswa baik dalam benak atau mental maupun dalam bentuk aktivitas yang nyata sehingga pembelajaran dapat terjadi.

Adapun dalam buku Hujair sanaky (2009: 6-7) menyebut media pembelajaran untuk merangsang siswa dalam belajar dengan cara:

  1. Menghadirkan obyek sebenarnya dan obyek langkah.
  2. Membuat duplikasi dari obyek yang sebenarnya.
  3. Membuat konsep abstrak ke konsep konkrit.
  4. Memberi kesamaan persepsi.
  5. Mengatasi hambatan waktu, tempat, jumlah dan jarak.
  6. Menyajikan ulang informasi secara konsisten, dan
  7. Memberi suasana belajar yang tidak tertekan, santai dan menarik sehingga dapat mencapai tujuan pembelajaran.

Selain fungsi di atas, Livie dan Lentz (1982) dalam buku Hujair Sanaky (2009: 7) mengemukakan empat fungsi media pembelajaran yang khususnya pada media visual, yaitu fungsi atensi, fungsi efektif, fungsi kognitif, dan fungsi kompensatoris. Masing-masing fungsi tersebut dapat  dijelaskan sebagai berikut:

  1.  Fungsi atensi berarti media visual merupakan inti, menarik dan mengarahkan perhatian pembelajar untuk berkonsentrasi kepada isi pelajaran yang berkaitan dengan makna visual yang ditampilkan atau menyertai teks materi pelajaran.
  2. Fungsi afektif maksudnya media visual dapat terlihat dari tingkat kenikmatan pembelajar  ketika belajar membaca teks bergambar. Gambar atau lambing visual akan dapat menggugah emosi dan sikap pembelajar.
  3.  Fungsi kognitif bermakna media visual mengungkapkan bahwa lambing visual memperlancar pencapaian tujuan untuk memahami dan mendengar informasi atau pesan yang terkandung dalam gambar.
  4. Fungsi kompensatoris artinya media visual memberikan konteks untuk memahami teks, membantu yang lemah dalam membaca untuk mengorganisasikan informasi dalam teks dan mengingatkannya kembali.
  5. Manfaat media pembelajaran

Manfaat media pembelajaran sebagai alat bantu dalam proses pembelajaran adalah sebagai berikut:

  1. Pengajaran lebih menarik perhatian pembelajar sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar.
  2. Bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami pembelajar, serta memungkinkan pembelajar menguasai tujuan pengajaran dengan baik.
  3. Metode pembelajaran bervariasi, tidak semata-mata hanya komunikasi verbal melalui penuturan kata-kata lesan pengajar, pembelajar tidak bosan dan pengajar tidak kehabisan tenaga.
  4. Pembelajar lebih banyak melakukan kegiatan belajar sebab tidak hanya mendengarkan penjelasan dari pengajar saja, tetapi juga aktivitas lain yang dilakukan seperti mengamati, melakukan, mendemonstrasikan dan lain-lain.

Selain itu manfaat media pembelajaran bagi pengajar dan pembelajar adalah sebagai berikut:

  1. Manfaat media pembelajaran bagi pengajar yaitu:
    1. Memberikan pedoman, arah untuk mencapai tujuan
    2. Menjelaskan struktur dan urutan pengajaran secara baik.
    3. Memberikan kerangka sistematis mengajar secara baik.
    4. Memudahkan kendali pengajar terhadap materi pelajaran.
    5. Membantu kecermatan, ketelitian dalam penyajian materi pelajaran.
    6. Membangkitkan rasa percaya diri seorang pengajar, dan
    7. Meningkatkan kualitas pelajaran.
    8. Manfaat media pembelajaran bagi pembelajar adalah
      1. Meningkatkan motivasi belajar pembelajar.
      2. Memberikan dan meningkatkan variasi belajar pembelajar
      3. Memberikan struktur materi pelajaran dan memudahkan pembelajar untuk belajar.
      4. Memberikan inti informasi, pokok-pokok secara sistematik sehingga memudahkan pembelajar untuk belajar.
      5. Merangsang pembelajar untuk berfokus dan beranalisis.
      6. Menciptakan kondisi dan situasi belajar tanpa tekanan, dan
      7. Pembelajar dapat memahami materi pelajaran dengan sistematis yang disajikan pengajar lewat media pembelajaran (Hujair Sanaky, 2009: 5).

Menurut Encylopedia of educational research dalam bukunya Oemar Hamalik (1989: 15) menyebutkan bahwa manfaat media pembelajaran adalah

  1. Meletakkan dasar-dasar yang konkrit untuk berfikir, oleh karena itu mengurangi “verbalisme”.
  2. Memperbesar perhatian para siswa.
  3. Meletakkan dasar-dasar yang penting untuk perkembangan belajar, oleh karena itu membuat pelajaran lebih mantap.
  4. Memberikan pengalaman yang nyata yang dapat menumbuhkan kegiatan berusaha sendiri dikalangan siswa.
  5. Menumbuhkan pemikiran yang teratur dan kontinou, hal ini terutama terdapat dalam gambar hidup.
  6. Membantu tumbuhnya pengertian, dengan demikian membantu perkembangan kemampuan berbahasa.
  7. Memberikan pengalaman-penglaman yang tidak mudah diperoleh dengan cara lain serta membantu berkembangnya efisiensi yang lebih mendalam serta keragaman yang lebih banyak dalam belajar.

Kemp dan Dayton (Depdiknas, 2003: 15-17) mengidentifikasi beberapa manfaat media dalam pembelajaran antara lain sebagai berikut:

  1. Penyampaian materi dapat diseragamkan Setiap guru mungkin punya penafsiran yang berbeda-beda terhadap suatu konsep materi pelajaran tertentu. Dengan bantuan media, penafsiran yang beragam tersebut dapat dihindari sehingga dapat disampaikan kepada siswa secara seragam.
  2. Proses pembelajaran menjadi lebih jelas dan menarik. Dengan berbagai potensi yang dimilikinya, media dapat menampilkan informasi melebihi suara, gambar, gerak dan warna baik secara alami maupun manipulasi.
  3. Proses pembelajaran lebih interaktif. Jika dipilih dan dirancang secara baik, media dapat membantu guru dan siswa melakaukan komunikasi dua arah secara aktif selama proses
    pembelajaran.
  4. Efisiensi dalam waktu dan tenaga. Guru sering menghasilkan banyak waktu untuk menjelaskan suatu materi pelajaran. Hal ini sebenarnya tidak harus terjadi jika guru dapat memanfaatkan maka visual secara verbal akan teratasi.
  5. Meningkatkan kualitas hasil belajar siswa. Penggunaan media membuat proses pembelajaran lebih efisien, selain itu juga membantu siswa menyerap materi belajar lebih mendalam dan utuh sehingga pemahaman siswa pasti akan lebih baik.
  6. Media memungkinkan proses belajar dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja. Media pembelajaran dapat dirancang sedemikian rupa sehingga siswa dapat melakukan kegiatan belajar secara lebih leluasa. Kapanpun dan dimanapun tanpa tergantung pada keberadaan seorang guru.
  7. Media dapat menumbuhkan setiap siswa terhadap materi dan proses belajar. Dengan media, proses pembelajaran menjadi lebih menarik sehingga mendororng siswa  mencintai ilmu pengetahuan dan gemar mencari sendiri sumber-sumber ilmu pengetahuan, kebiasaan itu akan menanamkan sikap pada siswa untuk senantiasa berinisiatif mencari berbagai sumber belajar yang diperlukan.
  8. Menambah peran guru menjadi lebih positif dan produktif. Dengan memanfaatkan media secara baik, guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber belajar bagi siswa, ia dapat berbagi peran dengan media sehingga akan mudah baginya dalam memberi perhatian dalam aspek-aspek edukatif lainnya seperti membantu kesulitan belajar siswa, pembentukan dan memotivasi belajar siswa.

Menurut Kemp dan Dayton (1985: 3-5) dalam Azhar Arsyad (2002: 22-25) manfaat media pembelajaran adalah:

  1. Penyampaian pelajaran menjadi lebih baku. Setiap pelajar yang melihat atau mendengar penyajian melalui media, menerima pesan yang sama.
  2. Pengajaran bisa lebih menarik. Media dapat diasosiasikan sebagai penarik perhatian dan membuat siswa terjaga dan memperhatikan. Kejelasan dan keruntutan pesan, daya tarik image yang berubah-ubah, penggunaan efek khusus yang dapat menimbulkan  keingintahuan menyebabkan siswa tertawa dan berfikir yang kesemuanya menunjukkan bahwa media memilki aspek motivasi dan meningkatkan minat.
  3. Pembelajaran menjadi lebih interaktif dengan diterapkannya teori belajar dan prinsip-prinsip psikologis yang diterima dalam hal partisipasi siswa, umpan balik dan penguatan.
  4. Lama waktu pengajaran yang diperlukan dapat dipersingkat untuk mengantarkan pesan-pesan dan isi pelajaran dalam jumlah yang cukup banyak dan kemungkinannya dapat diserap oleh siswa.
  5. Kualitas hasil belajar dapat ditingkatkan bilamana integrasi kata dan gambar sebagai media pengajaran dapat mengkomunikasikan elemenelemen pengetahuan dengan cara yang terorganisasikan dengan baik, spesifik dan jelas.
  6. Pengajaran dapat diberikan kapan dan di mana diinginkan atau diperlukan terutama jika media pengajaran dirancang untuk penggunaan secara individu.
  7. Sikap positif siswa terhadap apa yang mereka pelajari dan terhadap proses belajar dapat ditingkatkan.
  8. Peran guru dapat berubah ke arah yang lebih positif, beban guru untuk penjelasan yang berulang-ulang mengenai isi pelajaran dapat kurangi bahkan dihilangkan sehingga ia dapat memusatkan perhatian kepada aspek penting lain dalam proses belajar mengajar, misalnya sebagai konsultan atau penasehat siswa.

Sudjana dan Rivai (1992: 2) mengemukakan manfaat media pengajran dan proses belajar siswa yaitu:

  1. Pengajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar.
  2. Bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami oleh siswa dan memungkinkannya menguasai dan mencapai tujuan pengajaran.
  3. Metode mengajar akan lebih bervariasi, tidak semata-mata komunikasi verbal melalui penuturan kata-kata oleh guru, sehingga siswa tidak bosan dan guru tidak kehabisan tenaga, apalagi kalau guru mengajar pada setiap jam pelajaran.
  4. Siswa dapat lebih banyak melakukan kegiatan belajar sebab tidak hanya mendengarkan uraian guru, tetapi juga aktivitas lain seperti mengamati, melakukan, mendemonstrasikan,  memamerkan dan lain-lain.

Secara umum kegunaan media dalam proses pembelajaran, adalah sebagai berikut:

  1. Memperjelas sajian pesan dan tidak terlalu bersifat verbalistik dalam bentuk kata-kata tertulis dan lisan belaka.
  2. Mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan daya indera, misalnya:

1)      Obyek yang terlalu besar dapat digantikan dengan realitas, gambar, film bingkai, film dan model.

2)      Obyek yang kecil dapat dibantu dengan projector micro, film bingkai, film dan gambar.

3)      Kejadian atau peristiwa yang terjadi di masa lalu dapat ditampilkan lagi lewat rekaman film, video, film bingkai, foto, maupun verbal.

4)      Obyek yang terlalu kompleks (mesin-mesin) dapat disajikan dengan model, diagram dan lain-lain.

5)      Konsep yang terlalu luas, seperti gunung berapi, gempa bumi, iklim, dan lain-lain dapat divisualisasikan dalam bentuk film, film bingkai, gambar dan lain-lain.

  1. Dengan menggunakan media pembelajaran secara tepat dan bervariasi dapat di atasi sikap pasif anak didik. Dalam hal ini media pembelajaran berguna untuk:

1)      menimbulkan kegairahan belajar,

2)      memungkinkan interaksi langsung antara pembelajar dengan lingkungan kenyataan, dan

3)      memungkinkan pembelajar dapat belajar sendiri menurut
kemampuan dan minatnya.

  1. Dengan sifat yang unik pada masing-masing pembelajar ditambah dengan lingkungan dan pengalaman yang berbeda antara pengajar dan pembelajar, sedangkan kurikulum dan materi pengajaran ditentukan sama untuk semua pembelajar, maka pengajar akan mengalami kesulitan bilamana semuanya itu harus ditangani sendiri. Pengajar dapat mengatasi hal-hal tersebut dengan menggunakan media pembelajaran, yaitu:

1)      kemampuan pengajar memberikan perangsang yang sama,

2)      kemampuan pengajar dalam mempersamakan pengalaman, dan

3)      kemampuan pengajar untuk menimbulkan persepsi yang sama.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa manfaat media pembelajaran adalah:

1)      lebih menarik perhatian,

2)      menumbuhkan motivasi belajar,

3)      bahan pengajaran lebih terstruktur, logis dan jelas,

4)      metode pembelajaran dapat bervariasi, dan

5)       pembelajar banyak melakukan kegiatan belajar.

Selain itu menurut Oemar Hamalik (1989: 17-18) terdapat sejumlah nilai praktis dari media pembelajaran sebagai berikut:

a)      Media melampaui batas pengalaman pribadi siswa. Biasanya kesempatan untuk memperoleh pengalaman dibatasi oleh faktor perorangan, dengan menggunakan media akan memudahkan guru dalam mengatasi jurang perbedaan dari pengalaman yang dimiliki
siswa.

b)      Media melampaui batas-batas ruangan kelas. Banyak hal yang tak mungkin dialami dalam kelas disebabkan berbagai faktor.

c)       Media memungkinkan terjadinya interaksi langsung antara siswa dan lingkungannya. Dengan menggunakan media, siswa dibawa ke kontak langsung dengan gejala kehidupan yang sesungguhny, missal menggunakan rekaman, eksperimen, karya wisata dan sebagainya.

d)      Media memberikan uniformitas atau kesamaan dalam pengamatan. Pengangamatan siswa terhadap sesuatu biasanya berbeda-beda, melalui media akan membantu guru dalam memberikan persepsi yang sama kepada siswa terhadap suatu benda atau peristiwa
tertentu.

e)      Media akan memberikan pengertian atau konsep yang sebenarnya secara realistis dan teliti.

f)       Media membangkitkan keinginan dan minat-minat yang baru. Melalui media siswa akan memperoleh pengalaman yang lebih luas dan lebib kaya, sehingga persepsinya akan semakin tajam dan pengertiannya menjadi lebih tepat.

g)      Media membangkitkan motivasi dan perangsang keingingan belajar. Media akan memberikan pengaruh pengaruh psikologis terhadap siswa. Periode orientasi pengajaran akan berlangsung lebih efektif apabila guru menggunakan media pembelajaran.

h)      Media akan memberikan pengalaman yang menyeluruh, pengalaman-pengalaman yang kongkrit lama kelamaan akan terinteraksi menjadi pengertian atau kesimpulan abstrak. Dari uraian tersebut bahwa media memiliki manfaat yang sangat besar terhadap para siswa.

Dari uraian dan pendapat beberapa ahli diatas, dapatlah disimpulkan babarapa manfaat praktis dari penggunaan media pembelajaran sebagai berikut:

a)      Media pembelajaran dapat memperjelas penyajian pesan dan informasi sehingga dapat memperlancar dan meningkatkan proses dan hasil belajar.

b)      Media pembelajaran dapat meningkatkan dan mengarahkan perhatian anak sehingga dapat menimbulkan motivasi belajar, interaksi yang lebih langsung antara siswa dan lingkungannya dan kemungkinan siswa untuk belajar sendiri.

c)       Media pembelajaran dapat mengatasi keterbatasan indera, ruang dan waktu.

d)      Media pembelajaran dapat memberikan kesamaan pengalaman kepada siswa tentang peristiwa-peristiwa di lingkungan mereka, serta memungkinkan terjadinya interaksi langsung dengan guru, masyarakat dan lingkungannya. Misalnya dengan karya wisata, kunjungan-kunjungan ke museum atau kebun binatang.

  1. Kriteria Pemilihan Media Pembelajaran

Media merupakan salah satu sarana untuk meningkatkan kegiatan belajar mengajar. Karena  beraneka ragamnya media, maka ada beberapa kriteria yang patut diperhatikan dalam memilih media yaitu :

  1. Sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Media dipilih berdasarkan tujuan instruksional yang telah ditetapkan yang secara umum mengacu kepada salah satu atau gabungan dari dua atau tiga ranah kognitif afektif dan psikomotor.
  2. Tepat untuk mendukung isi pelajaran yang sifatnya fakta, konsep, prinsip, atau generalisasi.
  3. Praktis, luwes dan bertahan. Jika tidak tersedia, waktu, dana atau sumber dana lainnya, untuk memproduksi, tidak perlu dipaksakan. Media yang mahal dan memakan waktu yang lama untuk memproduksinya bukanlah jaminan sebagai media yang terbaik. Kriteria ini menuntun para guru atau instruktur untuk memilih media yang ada, mudah diperoleh atau mudah dibuat sendiri oleh guru.
  4. Guru terampil menggunakannya . Ini merupakan salah satu kriteria. Apapun media itu, guru harus mampu menggunakannya dalam proses pembelajaran. Nilai dan manfaat amat  ditentukan oleh guru yang menggunakannya.
  5. Pengelompokan sasaran. Media yang efektif untuk kelompok besar belum tentu sama efektifnya jika digunakan pada kelompok kecil atau perorangan, ada media yang tepat untuk jenis kelompok besar, kelompok sedang maupun kecil atau perorangan. Ada media yang tepat untuk jenis kelompok besar, kelompok sedang maupun kelompok kecil atau perorangan.
  6. Mutu teknis Pengembangan visual baik gambar atau fotograf harus memenuhi persyaratan tehnis tertentu, misalnya visual pada slite harus jelas dan informasi atau pesan yang ditonjolkan dan ingin disampaikan tidak boleh terganggu oleh elemen lain yang berupa latar
    belakang. AzharArsyad (2002: 72-74).

Selain dari pendapat diatas, dalam bukunya Hujair Sanaky (2009: 5-6) menyebutkan bahwa dalam menentukan pilihan media yang akan digunakan dalam proses pembelajaran dikelas.
Pertimbangan media akan digunakan dalam pembelajaran menjadi pertimbangan utama, harus sesuai dengan:

1)      tujuan pengajaran

2)      bahan pelajaran

3)      metode mengajar

4)       tersedia alat yang dibutuhkan

5)      pribadi pengajar

6)      minat dan kemampuan pembelajar dan

7)      situasi pengajaran yang sedang berlangsung

Dengan demikian keterkaitan antara media pembelajaran dengan tujuan, materi, metode dan kondisi pembelajar harus menjadi perhatian dan pertimbangan pengajar untuk memilih dan menggunakan media dalam proses pembelajaran dikelas, sehingga media yang digunakan lebih efektif dan efisien untuk mencapai tujuan pembelajaran, sebab media pembelajaran tidak dapat berdiri sendiri, tetapi terkait dan memiliki hubungan secara timbal balik dengan empat aspek tersebut.

  1. Klasifikasi media pembelajaran

Media pembelajaran apabila dilihat dari sudut pandang yang luas, tidak hanya terbatas pada alat-alat audio, visual, audio-visual saja. Melainkan sampai pada kondisi pribadi pembelajar dan tingkah laku pengajar. Maka media pembelajaran diklasifikasikan sebagai berikut:

  1. Bahan yang mengutamakan kegiatan membaca atau dengan menggunakan simbol-simbol kata dan visual (bahan-bahan cetakan dan bacaan).
  2. Alat-alat audio-visual, alat-alat yang tergolong ke dalam kategori ini yaitu:

1)      media proyeksi (overhead projector, slide, film dan LCD)

2)      media non-proyeksi (papan tulis, poster, papan temple, kartun, papan planel, komik, bagan, diagram, gambar, grafik, dan lainlain) dan

3)      benda tiga dimensi antara lain benda tiruan, diorama, boneka, topeng, lembaran balik, peta, globe, pameran,dan museum sekolah.

  1. Media yang menggunakan teknik atau masimal, yaitu, slide, film strif, film rekaman, radio, televise, video, VCD, laboratorium elektronik, perkakas otinstruktif, ruang kelas otomatis, system interkomunikasi, komputer, internet.
  2. Kumpulan benda-benda (material collections), yaitu berupa peninggalan sejarah, dokumentasi, bahan-bahan yang memiliki nilai sejarah, jenis kehidupan, mata pencarian, industri, perbankan, perdagangan, pemerintahan, agama, kebudayaan, politik, dan lainlain.
  3.  Contoh-contoh kelakuan, perilaku pengajar. Pengajar member contoh perilaku atau suatu perbuatan. Misalnya, mencontohkan suatu perbuatan dengan gerakan tangan dan kaki, gerakan badan, mimik, dan lain-lain.

Media pembelajaran dalam bentuk ini,  sangat tergantung pada inistif dan kreasi pengajar dan jenis media seperti ini, hanya dapat dilihat dan ditirukan oleh pembelajar. Seorang pengajar harus berusaha memberikan contoh yang baik kepada pembelajar baik ketika dalam proses pembelajaran di kelas, maupun di luar kelas, maupun di luar lingkungan sekolah. Sebab perbuatan dan tingkah laku pengajar di dalam kelas maupun di luar kelas akan menjadi contoh bagi pembelajar dan dianut.

Dengan demikian media pembelajaran dari sudut pandang yang luas, tidak hanya terbatas pada alat-alat audio visual yang digunakan saja, tetapi sampai pada tingkah laku pengajar dan kondisi pribadi pembelajar itu sendiri. Media pembelajaran sangat banyak macam dan jenisnya. Maka, untuk menggunakan suatu media pembelajaran secara baik, efektif dan efisiien dalam proses pembelajaran diperlukan kemampuan, pengetahuan dalam memilih, menggunakan dan kemampuan untuk mendesain serta membuat suatu media pembelajaran tersebut.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah keterkaitan media dengan tujuan pembelajaran, metode, materi pembelajaran, kondisi pembelajar. Selain itu, pengembangan dan penggunaan media pembelajaran, sangat tergantung pada kreasi dan inisiatif pengajar itu sendiri. Sebab, kemampuan, kreasi dan inisiatif pengajar dalam mendesain, membuat dan mengembangkan media pembelajaran merupakan hal yang mutlak dan tidak boleh diabaikan.

Beberapa klasifikasi media yang dikemukakan para ahli, di antaranya Edgar Dale dan Rudy Bretz, sebagai berikut:

  1.  Kerucut Pengalaman Edgar Dale

Edgar Dale, menggambarkan tingkat pengalaman dan alat-alat yang diperlukan untuk memperoleh pengalaman. Menurut Edgar Dale, pengalaman berlangsung dari tingkat yang konkret naik menuju ke tingkat yang lebih abstrak. Pada tingkat yang konkret, seseorang dapat belajar dari kenyataan atau pengalaman langsung yang bertujuan dalam kehidupan kita. Kemudian meningkat ke tingkat yang lebih atas menuju ke puncak kerucut, dalam tingkat yang abstrak bentuk simbol-simbol. Pembagian tingkatan-tingkatan itu, sematamata membantu melihat pengalaman belajar.

Kerucut pengalaman yang dikemukakan Edgar Dale, (lihat gambar dengan pola berpikir dari konkret sampai abstrak). Penjelasan kerucut tersebut, sebagai berikut:

1)       Pengalaman langsung dan bertujuan, yaitu pengalaman yang diperoleh dengan jalan hubungan langsung dengan benda-benda, kejadian dan pembelajar bekerja sendiri, mengalami sendiri, memecahkan masalah sendiri. Semua yang dilakukan berdasarkan pada tujuan yang telah direncanakan dan ditetapkan sebelumnya.

2)      Pengalaman tiruan yang diatur, yaitu pengalaman yang diperoleh melalui benda-benda atau kejadian tiruan dari yang sebenarnya atau penciptaan kembali benda-benda tersebut. Alasan penciptaan, karena: (a) mungkin sulit didapatkan, (b) terlalu kecil atau terlalu besar, dan (c) tempatnya terlalu jauh. Faedah dari usaha penciptaan kembali benda-benda tersebut, adalah:

(a)    memberi kesan yang mendalam,

(b)   memberi arti yang sebenarnya,

(c)    memberi pengertian, dan

(d)    menghilangkan verbalisme.

Contoh:
Model : benda buatan dalam ukuran kecil
Mock-up : benda sebenarnya, bagian tertentu dihilangkan
Objek : benda yang sebenarnya
Specimen : bagian dari benda sebenarnya. Misalnya, bagian
depan mobil, komplit, dll.

3)      Pengalaman dramatisasi, yaitu penyajian dalam bentuk drama, dari berbagai gerakan sampai ke permainan yang lengkap dengan pakaian dan dekorasi. Manfaatnya:

a)      banyak menarik perhatian,

b)      para pelaku menyelami watak yang diperankan,

c)       mempunyai nilai penyembuh,

d)      melatih kerjasama, dan

e)       melatih penguasaan bahasa, sikap, suara, mimic dan gaya
meliputi:

(1)    The Play, dilakukan di panggung atau seolah-olah di panggung

(2)    The Pageant, pertunjukkan sejarah berdasarkan sejarah setempat dan dilakukan di alam terbuka.

(3)    Pantomin, sandiwara bisu, hasilnya tergantung pada gaya sang pelaku.

(4)     Tablo, permainan yang merupakan skenario yang terdiri dari orang-orang beserta dekorasinya dan tidak ada gerakan atau suara.

4)      Demontrasi, yaitu percontohan atau pertunjukkan cara membuat atau cara melayani suatu proses. Misalnya, percontohan memandikan jenazah, wudhu, shalat, dan lain-lain. Dalam proses pembelajaran, demontrasi juga memerlukan alat-alat, bahasa yang sederhana, persiapan yang baik, waktu yang cukup, tempat yang memadai dan minat dari pemirsa.

5)      Karyawisata, yaitu membawa pembelajar ke obyek luar dengan maksud memperkaya dan memperluas pengalaman pembelajar. Kegiatan yang dilakukan pembelajar dalam karyawisata adalah:

a)      embelajar aktif melakukan observasi,

b)      tanya-jawab,

c)       mencatat, dan

d)      membuat laporan.

6)      Pameran, tujuannya, untuk mempertunjukkan hasil pekerjaan pembelajar,  perkembangan dan kemajuan sekolah kepada warga sekolah dan masyarakat pada umumnya.

7)      Televisi, yaitu suatu media untuk menyampaikan pesan pendidikan dan pengajaran kepada anak-anak dan masyarakat. Program televisi pendidikan dinilai selain menarik minat yang lebih besar dan juga memberikan informasi yang autentik.

8)      Gambar hidup (film), yaitu rangkaian gambar yang dapat diproyeksikan ke layar dengan kecepatan tertentu. Rangkaian suatu gambar dan suara yang menampilkan cerita dan gambar yang mudah dipahami.

9)      Radio, yaitu dengan siaran radio dapat disampaikan pengajaran secara efektif, dan akan menambah pengalaman, pengetahuan, dan menimbulkan motivasi belajar. Programnya berupa cerita, ceramah, wawancara, sandiwara, dan sebagainya.

10)   Gambar, yaitu segala sesuatu yang diwujudkan secara visual dalam bentuk dua dimensi dan sebagai curahan perasaan dan pikiran. Lukisan, dapat berbentuk ilustrasi, karikatur, kartun, poster, gambar seri, slide dan filmstrip.

11)   Lambang visual, yaitu gambar yang secara keseluruhan dari sesuatu yang dijelaskan ke dalam suatu bentuk yang dapat divisualisasikan, misalnya:

a)      sketsa, yaitu hasil lukisan yang bentuknya belum lengkap atau tidak lengkap,

b)      bagan, yaitu kombinasi garis atau tulisan dengan gambarnya yang dijelmakan secara logis untuk menerangkan fakta dan ide,

c)       grafik, yaitu gambit memberi keterangan tentang angka-angka dan hubungannya,

d)      poster gambar, berfungsi sebagai pemberitahuan atau peringatan dan  hubungannya,

e)      komok, yaitu gambar gambar atau lukisan bersambung yang merupakan cerita,

f)       kartun gambar, digunakan untuk menghibur, mengkritik, dan menganjurkan,

g)      diagram, yaitu kombinasi antara garis dan gambar yang menunjukkan hibungan intern dan bersifat abstrak,

h)      peta gambar, melukiskan lambang keadaan yang sebenarnya.

12)   Lambang kata (verbal). Yaitu lambang kata dapat dijumpai dalam buku dan bahan-bahan bacaan lainnya, seperti buku, majalah, koran, dan lain-lain.

  1. Jenis-jenis media pembelajaran

Beberapa jenis media yang sering digunakan, yaitu:

  1. Media cetak

Media cetak adalah jenis media yang paling banyak digunakan dalam proses belajar. Jenis media ini memiliki bentuk yang sangat bervariasi, mulai dari buku, brosur, leaflet, studi guide, jurnal dan majalah ilmiah. Buku adalah media yang bersifat fleksibel (luwes) dan biaya pengadaannya relatif lebih murah jika dibandingkan dengan pengadaan media lain. Penggunaan media cetak dalam proses pembelajaran dapat dikombinasikan sebagai informasi utama atau bahkan suplemen informasi terhadap penggunaan media lain.

  1. Media pameran

Jenis media yang memiliki bentuk dua atau tiga dimensi. Informasi yang dapat dipamerkan dalam media ini, berupa benda-benda sesungguhnya (realia) atau benda reproduksi atau tiruan dari bendabenda asli. Media yang dapat diklasifikasikan ke dalam jenis media pameran yaitu poster, grafis (graphic materials), realia, dan model.

1)      Realia, benda nyata yang dapat dihadirkan di ruang kuliah untuk keperluan proses pembelajaran. Pengajar dapat menggunakan realia untuk menjelaskan konsep bentuk dan mekanisme kerja suatu sistem misalnya peralatan laboratorium.

2)      Model, benda tiruan yang digunakan untuk mempresentasikan realitas. Model mesin atau benda tertentu dapat digunakan untuk menggantikan mesin riel.

  1. Media yang diproyeksikan

Media yang diproyeksikan juga memiliki bentuk fisik yang bervariasi, yaitu overhead transparansi, slide suara, dan film strip. Over head transparansi dapat dianggap sebagai projected medium yang paling banyak digunakan dalam proses pembelajaran. Sampai saat ini media slide suara, dan film strip sudah tidak digunakan lagi untuk keperluan
pembelajaran.

  1. Rekaman radio

Rekaman radio adalah jenis medium yang sangat tepat untuk digunakan dalam pembelajaran bahasa asing, al-Qur’an dan latihan-latihan yang bersifat verbal. Pembelajaran tentang cara pengucapan (pronounciation) dan ketrampilan mendengar (listening skill) akan sangat efektif jika menggunakan media ini. Media audi yang disiarkan sebagai program radio telah lama digunakan sebagai sarana untuk menyampaikan materi pembelajaran pada beberapa lembaga pendidikan jarak jauh di seluruh dunia.

  1. Video dan VCD

Gambar bergerak yang disertai dengan unsur suara dapat ditayangkan melalui media video dan video compact disk (VCD). Sama seperti media audio, program video yang disiarkan (broadcasted) sering digunakan oleh lembaga pendidikan jarak jauh sebagai sarana penyampaian materi pembelajaran. Video dan televisi mampu menayangkan proses pembelajaran secara realistik. Video dan televise mampu menayangkan proses pembelajaran secara realistik. Video memiliki beberapa features yang sangat bermanfaat untuk digunakan dalam proses pembelajaran. Salah satu feature tersebut adalah slow motion di mana gerakan obyek atau peristiwa tertentu yang berlangsung sangat cepat dapat diperlambat agar mudah dipelajari oleh mahasiswa. Slow motion, kemampuan teknis untuk memperlambat proses atau peristiwa yang berlangsung cepat. Video dan VCD dapat digunakan sebagai media untuk mempelajari obyek dan mekanisme kerja dalam mata kuliah tertentu.

  1. Komputer

Komputer bukan lagi sesuatu yang baru, karena komputer telah banyak digunakan baik oleh pengajar, pembelajar, perkantoran, lembagalembaga latihan kerja, warnet, maupun masyarakat pada umumnya. Sebagai media pembelajran, komputer mampu membuat  proses belajar menjadi interaktif.
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

KESIMPULAN

Efektifitas berasal dari kata dasar efektif. Dalam kamus bahasa Indonesia, kata efektif mempunyai arti mempunyai efek, pengaruh atau akibat. Maka efektifitas bisa diartikan seberapa tingkat besar keberhasilan yang dapat diraih (dicapai) dari suatu cara atau usaha tertentu sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai.

Kata media berasal dari bahasa latin medius yang secara hafal berarti tengah, perantara atau pengantar. Dalam bahasa arab, media adalah perantara atau pengantar dari pengirim kepada penerima pesan .

Media pembelajaran adalah sarana pendidikan yang dapat digunakan sebagai perantara dalam proses pembelajaran untuk mempertinggi efektifitas dan efisiensi dalam mencapai tujuan pengajaran. Dalam pengertian lebih luas media pembelajran adalah alat, metode dan teknik yang digunakan dalam rangka lebih mengefektifkan komunikasi dan interaksi antara pengajar dan pembelajar dalam proses pembelajaran di kelas.

Efektifitas penggunaan media pembelajaran adalah suatu usaha, sejauh mana usaha dalam pembelajaran dengan menggunakan alat bantu (media) dalam pencapaian suatu tujuan yang telah direncanakan.

DAFTAR PUSTAKA

Arsyad, Azhar. 2002. Media Pembelajaran. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Departemen Pendidikan Nasional. 2004. Kurikulum SMK Edisi 2004, Normatif. Jakarta: Depdiknas.

Depdiknas. 2003. Media pembelajaran. Jakarta: Direktorat Pendidikan Dasar dan
Menengah Direktorat Tenaga Kependidikan.
Gulo,W. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Pt. Gramedia Widiasarana
Indonesia.

Hamalik, Oemar.1989. Media Pendidikan. Bandung: PT Citra Aditya Bakti
Madyo, Eko Susilo dan Kasihadi. 1985. Dasar-Dasar Pendidikan. Semarang: Effhar
Offset.

Margono, S. 2000. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: PT Renika Cipta
Muhammad Zain, Sutan.1996. Kamus Umum Bahasa Indonesi. Jakarta: Pustaka
Sinar Harapan.

Nasution. 1999. Teknologi Pendidikan. Jakarta: Budi Aksara.
Pringgodigjo.1973. Ensiklopedia Umum. Yogyakarta: Yayasan Kanisius
Purwanto, Ngalim.1987. Pendidikan Toritis dan Praktis. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya

Rosyad, Amirudin dan Darhim. 1996. Media Pengajaran. Jakarta: Direktorat Jendral
Pembinaan Kelembagaan Agama Islam.

Sadiman, Arief S dkk.1993. Media Pendidikan Pengertian, Pengembangan dan
Pemanfaatannya. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Sanaky, Hujair AH. 2009. Media Pembelajaran. Yogyakarta: Safiria Insania Press.

Shaleh, ABD Rachman.1976. Pendidikan Agama Islam Di Sekolah Dasar. Petunjuk
Pelaksanaan Kurikulum 1975. Jakarta: Bulan Bintang.

Sudjana, Nana dan Ahmad Rival. 1998. Media Pengajaran Bandung: CV. Sinar.

Tim Redaksi Fokusmedia. 2006. Himpunan Peraturan Perundang-undangan tentang
Sitem Pendidikan Nasional. Bandung: Fokusmedia.

Usman, Basyirudin dan Asnawir. 2002. Media Pembelajaran. Jakarta: Delia Citra
Utama.

http://adfal86.blogspot.com/2011/11/skripsi-efektifitas-penggunaan-media.html: skripsi EFEKTIFITAS PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SDN KRAPYAK 2 NGEMPLAK KABUPATEN SLEMAN

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s